Thursday, May 20, 2010

Beringin Tua Iggi ...

Iggi merupakan seorang remaja berumur 15 tahun. Berkulit sawo matang dan selalu mengenakan topi merah kesayangannya. Iggi tergolong pendiam diantara teman-temannya. Jarang sekali waktunya disempatkan untuk bermain bersama teman-temannya. Karena menurutnya, teman-temannya hanya bisa mencemoohnya, terutama pada saat Iggi kesusahan. Tidak ada satupun dari mereka yang tulus membantu Iggi. Satu-satunya teman Iggi yang setia hanyalah pohon beringin tua yang berada di taman belakang sekolah.

Pohon tua berbatang besar dan berdaun lebat itu selalu menjadi tempat singgah favoritnya Iggi. Setiap harinya, selalu saja Iggi menyempatkan dirinya ke taman belakang sekolah untuk melihat sahabatnya. Hal ini dilakukannya semenjak Iggi masih berumur 9 tahun. Waktu serasa tak berarti bagi persahabatan Iggi dengan beringinnya.

Begitu banyak hal yang terjadi diantara mereka berdua. Kadang ketika Iggi sehabis dimarahi orang tua atau gurunya, Iggi langsung curhat dan kadang menangis di depan sahabatnya. Tanpa tanggung-tanggung Iggi selalu mencurahkan seluruh isi hatinya. Bahkan karena kelelahan menangis, Iggi kadang suka ketiduran di bawah pohon. Bisa dibilang, sahabatnya merupakan sandaran batin Iggi. Ketika lelah, Iggi bisa merebahkan tubuhnya dengan nyaman. Ketika gundah, Iggi bisa mencurahkan seluruh perasaannya tanpa harus dicemooh. Karena tingkahnya, Teman-teman sekolah Iggi suka menanyakan keadaan Iggi, bahkan semakin mencemooh Iggi. Tapi Iggi tidak perduli, karena ia berpikiran 'lebih baik diam daripada harus membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi sampai menyakiti perasaan orang lain'.

Sampai pada suatu malam, perasaan Iggi terasa begitu gelisah tidak karuan sehingga dia tidak bisa tidur. Sekali mata terpejam, Iggi selalu dihantui mimpi buruk, sehingga dia kembali terbangun. Hujan lebat disertai sambaran kilat semakin membuat Iggi gelisah. Sempat terbersit di pikirannya, entah apa gerangan hal buruk yang akan terjadi. Tapi dia tidak perduli dan tetap mencoba berpikiran positif. Sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak tidur.

Pagi menjelang. Matahari mulai menghangatkan hari. Bermaksud untuk bercerita ke sahabatnya apa yang semalam Iggi alami, Iggi langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menuju taman belakang sekolah. Walaupun lelah karena terjaga semalaman, Iggi tetap ingin menemui sahabatnya. Dengan harapan, hati Iggi bisa kembali tenang setelah bercerita kepada sahabatnya.

Sesampainya di taman belakang sekolah, Iggi diam terpaku. Hilang semua kata, hilang semua mimpi, seakan waktu berhenti hanya untuk memperlihatkan hal ini kepada Iggi. Air mata Iggi tak terbendung lagi dan mulai menetes. Melihat sahabatnya hangus berantakan terkena sambaran kilat. Perlahan-lahan Iggi mulai menguatkan dirinya, dan berjalan mendekati sahabatnya sambil mengumpulkan dahan-dahan yang berserakan di tanah. Semakin dekat, semakin Iggi tak kuasa menahan tangisnya. 

Tak heran Iggi sedih karena harus kehilangan sandaran batinnya setelah bertahun-tahun bersama. Hilang semua, tempat Iggi harus merebahkan hatinya. Tak tahu lagi apa yang harus Iggi lakukan. Iggi hanya bisa menerima perihnya kenyataan. Iggi memeluk temannya, sambil mengingat kenangan masa lalu dengan sahabatnya. Beberapa saat kemudian Iggi tertidur di sebelah sahabatnya. Karena lelah Iggi bermimpi bertemu sahabatnya. Senangnya Iggi seandainya ini bukan mimpi. Dalam mimpinya sahabatnya berbicara kepada Iggi. Selain mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Iggi, dia juga menyampaikan pesan terakhirnya kepada Iggi : "Iggi, sesungguhnya aku hanyalah sebatang pohon. Tak bisa bicara, tak bisa mendengar. Tapi aku bisa merasakan kehadiranmu, setiap kali kau kesini. Sadarlah Iggi, aku bukanlah tempat sandaran batinmu. Tapi orangtuamu lah. Mereka sayang kepadamu. Walaupun kadang mereka keras kepadamu, bukan berarti mereka membencimu. Sadarilah itu sebelum terlambat. Sebelum mereka pergi untuk selamanya."

No comments:

Post a Comment